Subscribe:
LeMBAGA TRANSPARANSI dan ANTI KORUPSI
Image by Cool Text: Free Graphics Generator - e-MAIL: letakmahasiswa@yahoo.com

MEDIA CENTER MAHASISWA | KRITIS DAN BIJAKSANA | MEDIANYA MAHASISWA

Rabu, 08 Februari 2012

FENOMENA KAMPUS

Dalam sebuah diskusi, dengan ruang yang sempit dan pengap seorang teman berkata "Begini, laporannya ada dua, yang satu kepada panitia dan anggota dan yang satu lagi kepada PD3," begitu kira-kira bahasanya. Anehnya semua yang menghadiri ikut menyetujui. Merasa diri hanya sendiri, mental yang lemah ini terpaksa diam walau menolak hati ini. Satu kegiatan dua laporan yang berbeda? Pembodohan dan kebohongan apa lagi ini?

Tak lama setelah rapat anggota BEMAF itu kemudian ada sebuah seminar yang diadakan oleh Rektorat IAIN ar-Raniry dengan Tema : Lemabaga Mahasiswa Sebagai wadah Pembentuk Komunitas yang Berkeadaban. Spontan setelah pemateri habis bicara moderator mempersilahkanku untuk bertanya. Tapi aku malah mengkritik tema yang ada. Bagiku tema tersebut sama sekali tidak realistis, bukankah kasus di atas sudah sangat kuat sebagai dalil penolakanku?

Dalam catatannya Win Wan Nur malah meragukan pendidikan Indonesia dengan memberi judul "Membunuh Kecerdasan Anak, Inikah Tujuan Pendidikan Indonesia? Lebih jauh dari pandangan yang diberikan beliau, saya selaku mahasiswa justru mengatakan bahwa pendidikan Indonesia tidak hanya membodohkan kecerdasan, tetapi membobrokkan moral pelajar. Betapa tidak, lihatlah suara munafik yang diteriakkan oleh mahasiswa, Allahu Akbar dengan lantang mereka membentak Tuhan, eh ketika lantunan lembut menggema di udara memanggil segenap jiwa, berapakah dari mereka yang menyambutnya?

Masih banyak lagi bentuk keanehan yang sangat disayangkan. Mereka yang dibanggakan sebenarnya yang harus di bumi hangauskan. Mereka yang dibenci karena kebaikan dan kejujuran eh malah dihindari.

Selasa, 07 Februari 2012

Belajar Jujur Lewat Dongeng


Alkisah di  peternakan Kakek Tulus, Cici Kelinci sedang belajar akrobat wortel kepada  Moli Monyet. Tanpa sengaja, wortel yang sedang menari-nari di tangannya jatuh dan memecahkan satu telur ayam  betina si Boni. Karena takut kena marah, Cici bersembunyi ketika Boni datang dan menanyakan siapa yang memecahkan telurnya kepada hewan-hewan lain di peternakan Kakek Tulus.
Dari balik persembunyiannya Cici melihat dan bergumam,”Kasihan teman-teman, saya yang berbuat, mereka  yang kena marah. Kalau saya diam, tentu berdosa. Kan, saya yang salah.” Akhirnya dengan gemetaran Cici keluar dari persembunyiannya dan berkata, ”Maaaaa...maaf, saya sal-salah, saya yang memecahkan telurmu, saya siap dihukum,” kata Cici sambil menundukkan kepala. 

Sepenggal kisah dongeng di atas menggema di ruang rapat pleno lantai 3 gedung KPK, Selasa (½) pagi, ditimpali suara riuh rendah sekitar seratus anak yang duduk bersila memadati ruangan. Ya, hari itu KPK kedatangan tamu spesial, yaitu murid-murid Raudhatul Athfal (Taman Kanak-Kanak Islam) Nurul Ikhlas Kota Depok. “Kita ajak anak-anak TK ini mendengarkan dongeng untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran. Cerita ini mengajarkan kepada anak bagaimana harus jujur dan mau mengakui kesalahan dengan segala risikonya,” papar Irawati, fungsional pada Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyrakat (Dikyanmas) KPK.


Berseragam kuning orange dan didampingi sepuluh guru didiknya, anak-anak berusia 3-5 tahun  ini  terlihat  antusias mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh Chrystelina.  Fungsional Humas KPK ini mengaku sangat senang bisa mengajarkan kejujuran kepada anak-anak melalui dongeng. “Sengaja dongeng saya kemas dengan bahasa yang lugas dan interaktif agar anak-anak mudah memahami dan terus mengikuti alur ceritanya,” jelasnya.  

Mahesa (4 tahun), salah seorang siswa, mengaku sangat suka dan senang dengan dongeng yang dibawakan. “Apalagi bisa bawa pulang buku dongengnya,” katanya dengan mata berbinar-binar. Kepala Sekolah RA Nurul Ikhlas, Ekyantiningsih, berharap  apa yang telah disampaikan melalui dongeng ini bisa membekas kepada anak-anak didiknya di masa datang.  

Mendongeng memang dipilih  KPK sebagai salah satu strategi  pencegahan tindak pidana korupsi. Di bidang pendidikan masyarakat, KPK menerbitkan buku kumpulan dongeng “Cerita dari Peternakan Kakek Tulus” untuk menanamkan nilai-nilai moral yang luhur sejak dini kepada anak-anak. Nilai kejujuran merupakan salah satu nilai yang diangkat dalam buku ini, di samping nilai-nilai lain, yaitu keadilan, kerja sama, kepedulian, tanggung jawab, kedisiplinan, keberanian, kegigihan dan kesederhanaan.  

“Diharapkan, pada akhirnya dapat tercipta generasi-generasi baru yang jauh lebih baik dan bersih dalam sikap dan perilaku keseharian mereka hingga nantinya dapat menjadi generasi yang anti korupsi,” tandas Irawati. (Humas)

Senin, 06 Februari 2012

Corruption Definition


Korupsi (bahasa Latincorruptio dari kata kerjacorrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok). Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus|politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.
Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup unsur-unsur sebagai berikut:
  • perbuatan melawan hukum;
  • penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana;
  • memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi;
  • merugikan keuangan negara atau perekonomian negara;
Selain itu terdapat beberapa jenis tindak pidana korupsi yang lain, di antaranya:
  • memberi atau menerima hadiah atau janji (penyuapan);
  • penggelapan dalam jabatan;
  • pemerasan dalam jabatan;
  • ikut serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara);
  • menerima gratifikasi (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara).
Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintah|pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para pencuridimana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali.
Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele atau berat, terorganisasi atau tidak. Walau korupsi sering memudahkan kegiatan kriminal seperti penjualan narkotika, pencucian uang, dan prostitusi, korupsi itu sendiri tidak terbatas dalam hal-hal ini saja. Untuk mempelajari masalah ini dan membuat solusinya, sangat penting untuk membedakan antara korupsi dan kriminalitas|kejahatan.
Tergantung dari negaranya atau wilayah hukumnya, ada perbedaan antara yang dianggap korupsi atau tidak. Sebagai contoh, pendanaan partai politik ada yang legal di satu tempat namun ada juga yang tidak legal di tempat lain.

Sumber : Wikipedia